Nabi SAW bersabdah

Posted: January 7, 2011 in arti nama AKU

Perempuan dinikahi karena .
nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya.
Maka menangkanlah wanita yang baik agamanya,
maka engkau akan beruntung.”

ADNEKSITIS

Posted: January 7, 2011 in arti nama AKU

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya, mengalami gangguan seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kita dapat mengenal organ reproduksi dengan baik sehingga kita dapat melakukan deteksi dini apabila terdapat gangguan pada organ reproduksi. Organ reproduksi pada wanita dibedakan menjadi dua, yaitu organ kelamin dalam dan organ kelamin luar. Organ kelamin luar memiliki dua fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi. Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan salah satunya adalah radang yang terjadi akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus dan bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan-jaringan sekitarnya dan biasa disebut dengan adneksitis. Menurut (Winkjosastro,Hanifa.Hal.396,2007) prevalensi adneksitis di Indonesia sebesar 1 : 1000 wanita dan rata-rata terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.Adneksitis bila tidak ditangani dengan baik akan menyebar keorgan lain disekitarnya seperti misalnya ruptur piosalping atau abses ovarium,dan terjadinya gejala-gejala ileus karena perlekatan, serta terjadinya appendisitis akuta dan salpingo ooforitis akuta. Maka dari itu sangat diperlukan peran tenaga kesehatan dalam membantu perawatan klien adneksitis dengan baik agar radangnya tidak menyebar ke organ lain dan para tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.Salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Beberapa peran bidan diantaranya yaitu peran bidan sebagai pengelola dimana bidan memiliki beberapa tugas salah satunya tugas kolaborasi. Didalam kolaborasi ini bidan harus menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga serta memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan tim medis lain. (Soepardan,Suryani.Hal 38.2008). Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara lebih dalam tentang adneksitis dan penatalaksanaannya dengan konsep asuhan kebidanan.

B.Rumusan Masalah
“Bagaimana penatalaksanaan klien adneksitis dengan konsep asuhan kebidanan secara komprehensif ?”

C.Tujuan
1.Tujuan umum
Tujuan umum dari kami mempelajari kasus ini adalah untuk mengaplikasikan konsep asuhan kebidanan secara komprehensif pada klien adneksitis.

2.Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengertian adneksitis.
b. Untuk mengetahui gejala dan tanda adneksitis.
c. Untuk mengetahui penyebab terjadinya adneksitis.
d. Untuk mengetahui patofisiologis dan penanganan adneksitis.
e. Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada kasus adneksitis

D.Manfaat
Manfaat dari mempelajari kasus ini adalah :
1. Bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat mempeerluas khasanah ilmu dan keterampilan klinik yang lebih luas terutama dalam melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan adneksitis.
2. Bagi klien dan keluarga
Dapat terpenuhi kebutuhan psikologis, sosial, spritual serta dapat meningkatkan tingkat status kesehatan dan dapat memberikan support bagi klien dan keluarga.
3. Bagi tenaga kesehatan
diharapkan agar dapat melakukan asuhan kebidanan dengan baik dan benar.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Adneksitis
Adneksitis atau Salpingo-ooforitis adalah radang pada tuba falopi dan radang ovarium yang terjadi secara bersamaan, biasa terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas sampai uterus, atau akibat tindakan post kuretase maupun post pemasangan alat kontrasepsi (IUD) (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007). Adnexa atau salpingo-ooporitis terbagi atas :
1.Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus sampai ke mukosa. Pada gonoroe ada kecenderungan perlekatan fimbria pada ostium tuba abdominalis yang menyebabkan penutupan ostium itu. Nanah yang terkumpul dalam tuba menyebabkan terjadi piosalping. Pada salpingitis gonoroika ada kecenderungan bahwa gonokokus menghilang dalam waktu yang singkat, biasanya 10 hari sehingga pembiakan negative. Salpingitis akut banyak ditemukan pada infeksi puerperal atau pada abortus septic ada juga disebabkan oleh berbagai tierti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam kuman seperti streptokokus ( aerobic dan anaaerobic ), stafilokokus, e. choli, clostridium wechii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari servik uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritoneum pelvic. Disini timbul salpingitis interstitial akuta ; mesosalping dan dinding tuba menebal dan menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa sering kali normal. Hal ini merupakan perbedaan yang nyata dengan salpingitis gonoroika, dimana radang terutama terdapat pada mukosa dengan sering terjadi penyumbatan lumen tuba.( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
2.Salpingo ooporitis kronika
Dapat dibedakan pembagian antara:
a. Hidrosalping
Pada hidrosalping terdapat penutupan ostium tuba abdominalis. Sebagian dari epitel mukosa tuba masih berfungsi dan mengeluarkan cairan akibat retensi cairan tersebut dalam tuba. Hidrosalping sering kali ditemukan bilateral, berbentuk seperti pipa tembakau dan dapat menjadi sebesar jeruk keprok. Hidrosalping dapat berupa hidrosalping simpleks dan hidrosalping follikularis. Pada hidrosalping simpleks terdapat satu ruangan berdinding tipis, sedang hidrosalping follikularis terbagi dalam ruangan kecil.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
b.Piosalping
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah. Pada piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan disekitarnya. Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit di tengah – tengah jaringan otot. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
c.Salpingitis interstisialis kronika
Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot.Terdapat pula perlekatan dengan-dengan jaringan-jaringan disekitarnya, seperti ovarium, uterus, dan usus.(Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
d.Kista tubo ovarial, abses tubo ovarial.
Pada kista tubo ovarial, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada abses tubo ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium.Abses ovarium yang jarang terdapat sendiri,dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
e.Salpingitis tuberkulosa
Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genetalis.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289,2007).

B.Etiologi (penyebab)
Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara traktus genetalia. Radang atau infeksi rongga perut disebabkan oleh :
1. Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah.
2. Lendir yang kental dan liat pada canalis servicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman.
(Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 1987, Hal. 103-106, 358-364).
Menurut (Djuanda Adhi,Hal 358-364,1987) Radang alat genetalia mungkin lebih sering terjadi di negara tropis, karena:
1. Hygiene belum sempurna.
2. Perawatan persalinan dan abortus belum memenuhi syarat-syarat.
3. Infeksi veneris belum terkendali.
Infeksi alat kandungan/genetalia dapat menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu keadaan sex. Sebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi gonorroe dan infeksi puerperal dan postabortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa yang paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh stapylococus, streptococcus, E.Coli, clostridoium welchi dan bakteri sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks (Sarwono.Wiknjosastro, Hanifa, Hal 287.2007). Ditemukan 1:1000 kasus operasi ginekologik abdominal,dapat dijumpai pada semua umur (dari 19-80 tahun),dengan rata-rata puncaknya pada usia 52 tahun dan terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual (Sarwono Winkjosastro, Hanifa. Hal 396. 2007).

C.Patofisiologi
1. Radang tuba fallopii dan radang ovarium biasanya terjadi bersamaan. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan – jaringan sekitarnya.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa. Hal 287.2007).
2. Pada salpingo ooforitis akuta gonorea ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit, pada infeksi yang ringan epitel masih utuh, tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenarasi epitel yang kemudian menghilang pada daerah yang agak luas dan ikut juga terlihat lapisan otot dan serosa.Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen yang dapat keluar melalui ostium tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
3. Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritonium pelvik. Disini timbul salpingitis interstialis akuta, mesosalping dan dinding tuba menebal menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa seringkali normal. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa Hal 287. 2007).

D.Tanda dan Gejala
1. Gambaran klinik salpingo ooforitis akuta ialah demam, leukositosis dan rasa nyeri disebelah kanan atau kiri uterus, penyakit tersebut tidak jarang dijumpai terdapat pada kedua adneksa, setelah lewat beberapa hari dijumpai pula tumor dengan batas yang tidak jelas dan nyeri tekan. Pada pemeriksaan air kencing biasanya menunjukkan sel-sel radang pada pielitis. Pada torsi adneksa timbul rasa nyeri mendadak dan apabila defence musculaire tidak terlalu keras, dapat diraba nyeri tekan dengan batas nyeri tekan yang nyata.(Sarwono. Winkjosastro, Hanifa. Hal 288.2007).
2. Gejala – gejala salpingo ooforitis kronika tidak selalu jelas, penyakit bisa didahului oleh gejala – gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyeri cukup kuat di perut bagian bawah, akan tetapi bisa pula dari permulaan sudah subakut atau menahun. Penderita pada umumnya merasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri atau kanan, yang bertambah keras pada pekerjaan berat, disertai dengan penyakit pinggang. Haid pada umumnya lebih banyak dari biasanya dengan siklus yang sering kali tidak teratur, penderita sering mengeluh tentang dispareunia dan infertilitas dan dapat pula ditemukan dismenorea. ( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).

E.Komplikasi
Pembedahan pada salpingo-ooforitis akuta perlu dilakukan apabila:
1. Jika terjadi ruptur atau abses ovarium.
2. Jika terjadi gejala-gejala ileus karena perlekatan.
3. Jika terjadi kesukaran untuk membedakan antara apendiksitis akuta dan adneksitis akuta.
Gejala; nyeri kencing, rasa tidak enak di bawah perut, demam, ada lendir/bercak keputihan di celana dalam yang terasa panas, infeksi yang mengenai organ-organ dalam panggul/ reproduksi. Penyebab infeksi lanjutan dari saluran kencing dan daerah vagina.(Sarwono.Winkjosatro, Hanifa. Hal 288.2007).Selain itu komplikasi yang terjadi dapat berupa appendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Biasanya lokasi nyeri tekan pada appendisitis akuta (pada titik Mac Burney) lebih tinggi daripada adneksitis akuta, akan tetapi apabila proses agak meluas perbedaan menjadi kurang jelas(Sarwono.Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007).

F.Penatalaksanaan Medis
Terapi sederhana dapat dilakukan dengan duduk diantara 2 sujud, dua tangan dikepala dipinggang, tarik nafas tangan ke pangkal paha lalu badan bungkuk, tangan putar simpan di pantat bawah dan tahan nafas dada dan keluar nafas dihidung badan tegak tangan ke paha dan simpan dipinggang 30 menit. Jika penyakitnya masih dalam keadaan subakut, penderita harus diberi terapi dengan antibiotika dengan spektrum luas. Jika keadaan sudah tenang, dapat diberi terapi diatermi dalam beberapa seri dan penderita dinasehatkan supaya jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Dengan terapi ini biarpun sisa-sisa peradangan masih ada, keluhan-keluhan penderita seringkali hilang atau sangat berkurang. Sudah barang tentu perlekatan-perlekatan tetap ada dan ini menyebabkan bahwa keluhan-keluhan tidak dapat hilang sama sekali.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007).
Terapi operatif mempunyai tempat pada salpingo-ooforitis konika. Indikasi terapi ini adalah:
1.Apabila setelah berulang kali dilakukan terapi dengan distermi keluhan tetap ada dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
2.Apabila tiap kali timbul reaktivisasi dari proses radang.
3.Apabila ada tumor disebelah uterus dan setelah dilakukan beberapa seri terapi diatermi tuor tidak mengecil, sehingga timbul dugaan adanya hidrosalping, piosalping, kista tubo-ovarial dan sebagainya.
4.Apabila ada infertilitas yang sebabnya terletak pada tuba, dalam hal ini sebaiknya dilakukan laparoskopi dahulu untuk mengetahui apakah ada harapan yang cukup besar bahwa dengan pembedahan tuba dapat dibuka dengan sempurna dan perlekatan dapat dilepaskan.
Terapi operatif kadang-kadang mengalami kesukaran berhubung dengan perlekatan yang erat antara tuba/ ovarium dengan uterus, omentum dan usus, yang memberi harapan yang terbaik untuk menyembuhkan penderita ialah operasi radikal, terdiri atas histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral. Akan tetapi, hal ini hanya dapat dilakukan pada wanita yang hampir menopause. Pada wanita yang lebih muda satu ovarium untuk sebagian atau seluruhnya perlu ditinggalkan, kadang-kadang uterus harus ditinggalkan dan hanya adneksa dengan kelainan yang nyata diangkat. Jika operasi dilakukan atas dasar indikasi infertilitas, maka tujuannya adalah untuk mengusahakan supaya fungsi tuba pulih kembali. Perlu dipikirkan kemungkinan diadakan in vitro fertilization.
Terapi pada salpingo-ooforitis akuta bisa juga dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika. Dengan terapi tersebut penyakit menjadi sembuh atau menahun. Jarang sekali salpingo-ooforitis akuta memerlukan terapi pembedahan.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007)

BAB III
PEMBAHASAN

Dari tinjauan kasus diatas didapatkan bahwa Klien Ny. SDL, seorang wanita dengan keluhan nyeri cukup kuat di perut bagian bawah disertai dengan demam, rasa nyeri bertambah keras pada saat melakukan pekerjaan yang berat-berat dan disertai dengan sakit pinggang dan keputihan hal itu dikategorikankan kedalam golongan adneksitis kronika (salpingo ooforitis kronika). Hal ini sesuai dengan teori (Sarwono.Wiknjosastro, Hanifa.Hal 289.2007) yang menyatakan bahwa wanita dengan gejala – gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyeri cukup kuat di perut bagian bawah. Pada umumnya penderita merasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri atau kanan, yang bertambah keras pada pekerjaan berat, disertai dengan sakit pinggang ,haid tidak teratur dan sering keputihan.
Penyebab dari adneksitis kronika itu sendiri itu adalah infeksi gonorroe, infeksi puerperal dan postabortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa yang paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh stapylococus, streptococcus, E.Coli, clostridoium welchi dan bakteri sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks (Sarwono. Wiknjosastro, Hanifa.Hal 287.2007). Yang perlu kita ketahui bahwa adneksitis hanya terjadi pada wanita yang sudah menikah atau pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Untuk kasus yang kita angkat ini diterangkan bahwa ibu dengan inisial Ny.SDL status nya adalah sudah menikah. Pada kasus ini kemungkinan besar bahwa infeksi disebabkan oleh infeksi hal ini dapat didasarkan pada seringnya ibu terkena keputihan dan haid yang tidak teratur sejak 2 bulan terakhir .
Untuk penatalaksanaan medis terapi yang dapat diberikan adalah dengan memberikan pasien kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu dapat pula dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika. Dengan terapi tersebut penyakit menjadi sembuh atau menahun. Jarang sekali salpingo-ooforitis akuta memerlukan terapi pembedahan (Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007). Pada kasus adneksitis kronika yang diderita oleh Ny.SDL terapi yang diberikan adalah pemberian antibiotik jenis Amoxan 3×1 amp, Gentamicin 2×80 gr, dan infus Mitronidazole 3×500 gr (diberikan secara IV) dan analgetika jenis Antrain 3×1 amp (Diberikan secara IV), perawatan umum. Selain itu pasien dianjurkan untuk istirahat baring. Jika keadaan sudah tenang, dapat diberi terapi diatermi dalam beberapa seri dan penderita dinasehatkan supaya jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Hal ini sesuai dengan teori (Menurut Sarwono. Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007), yang menyatakan bahwa untuk penatalaksanaan medis terapi yang dapat diberikan adalah dengan memberikan pasien kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu dapat pula dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika.Dengan terapi ini biarpun sisa-sisa peradangan masih ada, keluhan-keluhan penderita seringkali hilang atau sangat berkurang. Sudah barang tentu perlekatan-perlekatan tetap ada dan ini menyebabkan bahwa keluhan-keluhan tidak dapat hilang sama sekali (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007).
Adapun komplikasi dari salpingo ooforitis bila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan terjadinya ruptur piosalping atau sbses ovarium, gejala – gejala ileus karena terjadi perlekatan, appendisitis akuta apendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Pada Ny.SDL komplikasi tersebut tidak terjadi hal ini karena terapi yang diberikan sudah tepat dan sesuai sehingga ketika dilakukan USG untuk melihat organ lain disekitarnya hasilnya normal.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Angka kematian Ibu dan bayi saat ini masih sangat tinggi. Terutama untuk ibu hamil yang tinggal di desa-desa, selain karena pengetahuan ibu hamil yang kurang dan tidak begitu mengerti tentang kesehatan, juga karena perawatan dalam persalinan masih di tangani oleh petugas non medik dan sistem rujukan yang belum sempurna. (Prof. dr.H. Muh.Dikman Angsar, SpOG, tahun 2005).
Salah satu penyebab dari tingginya mortalitas dan morbiditas ibu bersalin adalah hipertensi yang karena tidak di tangani dengan benar berujung pada preeklsamsia dan eklamsia. Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5 – 15 % penyulit kehamilan. Oleh karena itu, ditekankan bahwa pengetahuan tentang pengelolaan sindroma preeklamsi ringan dengan hipertensi, odema dan protein urine harus benar – benar dipahami dan ditangani dengan benar oleh semua tenaga medis. (Prof. dr.H. Muh.Dikman Angsar, SpOG, tahun 2005).

B. Rumusan Masalah
Karena banyaknya masalah Preeklampsia yang terjadi di masyarakat, maka rumusan masalah pada laporan ini membahas mengenai Preeklampsia berat.
Ada beberapa permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini, yaitu :
1. Apa pengertian Preeklampsia ?
2. Apa penyebab dari Preeklampsia ?
3. Seperti apa Patofisiologinya ?
4. Seperti apa Manifestasi Kliniknya ?
5. Apakah terdapat Komplikasi ?
6. Seperti apa Penatalaksanaan Medisnya ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Kami mengangkat makalah tentang asuhan kebidanan pada masa nifas dengan Preeklamsi Berat (PEB) adalah untuk menambah pengetahuan mengenai pelayanan atau asuhan yang diberikan pada masa nifas dengan keadaan tersebut.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian Preeklampsia berat
b. Mengetahui bahaya Preeklampsia berat bagi ibu
c. Mengetahui bahaya preeklamspi berat bagi janin
d. Mengetahui kapan gejela dan tanda Preeklampsia berat itu terjadi pada wanita hamil
e. Mengetahui tanda-tanda dan gejala bahaya Preeklampsia berat
f. Mengetahui cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi Preeklampsia berat.

D. Manfaat
Penulisan laporan ini dapat diharapkan dapat memberikan manfaat pada petugas kesehatan khususnya bidan dalam memberikan informasi-informasi mengenai preeklamsi berat.
Adapun manfaat itu antara lain :
1. Mengetahui gejala – gejala atau tanda – tanda dari Preeklampsia Berat
2. Mengetahui bahaya dari Preeklampsia Berat
3. Mengetahui sebab – sebab umum dari Preeklampsia Berat
4. Segera memeriksakan diri ke petugas medik.
5. Preeklamspi Berat segera mendapat penanganan sesuai dengan
keadaan ibu nifas tersebut.
6. Tenaga medik mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan Preeklampsia yang benar.
7. Tenaga medik dapat memberikan pelayanan dalam mengatasi Preeklampsia
dengan benar.
8. Untuk memenuhi laporan seminar.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odema, dan protein urine yang timbul karena kehamilan, penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan. Preeklampsia juga merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi pada masa ante, intra dan post partum. Dari gejala-gejala klinik, Preeklampsia dapat dibagi menjadi Preeklampsia Ringan, Preeklampsia Sedang dan Preeklampsia Berat.

B. Etiologi/penyebab
Banyak pendapat para Sarjana tentang etiologi terjadinya Preeklampsia. Salah satunya adalah hepotisa bahwa terjadinya Preeklampsia adalah diawali oleh faktor plasenta, oleh karena perfusi yang tidak sempurna, atau diawali oleh faktor maternal, karena adanya predisposisi ibu terhadap adanya penyakit arteri, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk problem jangka panjang seperti atherosklerosis atau hipertensi kronis. Dari kedua faktor tersebut mengalami konfergensi pada proses aktivasi endothel dan sel granulosit/monosit dengan hasil akhir berupa peningkatan respon inflamasi sistemik dalam wujud Preeklampsia.
Adapun faktor maternal yang menjadi predisposisi terjadinya Preeklampsia
1. Usia ekstrim ( 35 th) : resiko terjadinya Preeklampsia meningkat seiring dengan peningkatan usia (peningkatan resiko 1,3 per 5 tahun peningkatan usia) dan dengan interval antar kehamilan (1,5 per 5 tahun interval antara kehamilan pertama dan kedua). Resiko terjadinya Preeklampsia pada wanita usia belasan terutama adalah karena lebih singkatnya lama paparan sperma. Sedang pada wanita usia lanjut terutama karena makin tua usia endothel makin berkurang kemampuannya dalam mengatasi terjadinya respon inflamasi sistemik dan stress regangan hemodinamik.
2. Riwayat Preeklampsia pada kehamilan sebelumnya: riwayat Preeklampsia pada kehamilan sebelumnya memberikan resiko sebesar 13,1 % untuk terjadinya Preeklampsia pada kehamilan kedua dengan partner yang sama.
3. Riwayat keluarga yang mengalami Preeklampsia: eklampsia dan Preeklampsia memiliki kecenderungan untuk diturunkan secara familial. Hasil studi di Norwegia menunjukkan bahwa mereka yang saudara kandungnya pernah alami Preeklampsia, estimasi OR (odds ratio) adalah sebesar 2,2. Sedangkan bagi mereka yang satu ibu lain ayah OR-nya sebesar 1,6. Bagi mereka yang satu ayah lain ibu OR-nya adalah 1,8. Sementara itu hasil studi lain menunjukkan bahwa riwayat keluarga dengan Preeklampsia menunjukkan resiko tiga kali lipat untuk mengalami Preeklampsia. Contoh dari gen-gen yang diturunkan yang berkaitan dengan Preeklampsia adalah: gen angiotensinogen, gen eNOS (endothelial NO synthase), gen yang berkaitan dengan TNFα, gen yang terlibat dalam proses koagulasi seperti factor V Leiden, MTHFR (methylenetetrahydrofolate reductase) dan prothrombin.
4. Paparan sperma, primipaternitas: paparan semen sperma merangsang timbulnya suatu kaskade kejadian seluler dan molekuler yang menyerupai respon inflamasi klasik. Ini yang kemudian merangsang produksi GM-CSF sebesar 20 kali lipat. Sitokin ini selanjutnya memobilisasi lekukosit endometrial. Faktor seminal yang berperan adalah TGF-β1 dalam bentuk inaktif. Selanjutnya plasmin dari semen sperma dan faktor uterus mengubahya menjadi bentuk aktif. Sitokin TGF-β1 akan merangsang peningkatan produksi GM-CSF (granulocyte macrophage-colony stimulating factor) . Bersamaan dengan itu sperma yang diejakulasikan juga mengandung antigen-antigen yang turut berperan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup zigot.

5. Penyakit yang mendasari
a. Hipertensi kronis dan penyakit ginjal
b. Obesitas, resistensi insulin dan diabetes
c. Gangguan thrombofilik
d. Faktor eksogen
i. Merokok, mnurunkan resiko PE
ii. Stress, tekanan psikososial yang berhubungan dengan pekerjaan, latihan fisik
iii. Infeksi saluran kemih

C. Patofisiologi
Perubahan pokok yang terjadi pada Preeklampsia adalah spasmus pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Dengan biopsy ginjal, Altchek dkk. (1968) menemukan spasmus yaang hebat pada arteriola glomerulus. Bila dianggap bahwa spasmus arteriola juga ditemukan di seluruh tubuh maka mudah dimengerti bahwa tekanan darah yang meningkat tampaknya merupakan usaha mengatasi kenaikan tahanan perifer agar oksigenisasi jaringan dapat dicukupi. Kenaikan berat badan dan odema yang disebabkan prnimbunan cairan yang berlebihan dalam ruang intersititas belum diketahui sebabnya.
Telah diketahui bahwa pada Preeklampsia dijumpai kadar aldosteron yang rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi daripada kehamilan normal. Aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan mengatur retensi air dan natrium. Pada Preeklampsia permeabilitas pembuluh darah terhadap protein meningkat.

D. Manifestasi Klinik/Tanda dan Gejala
Preeklampsia diketahui dengan timbulnya hipertensi, protein urine dan odema pada seorang primigravida yang tadinya normal.
Diagnosa Preeklampsia ringan berdasarkan tanda-tanda:
1. Tekanan sitolik 140 mmHg atau lebih atau kenaikan 30 mmHg diatas tekanan yang biasa.
2. Protein urine kuantitatif yaitu protein lebih dari 0,3 gr/ltr dalam urine 24 jam atau lebih dari 1 gr/ltr pada urine sewaktu protein urine ini harus ada pada 2 hari berturut-turut atau lebih.
3. Odema umum, seperti kaki, jari tangan dan muka.

E. Komplikasi
Komplikasi tergantung dari berat ringannya Preeklampsia atau eklamsia. Yang paling sering di temukan adalah oligouria yang bertanggung jawab atas berbagai komplikasi lainnya. Karena ini biasanya perlu di pasang kateter menetap (Foley kateter). Penyebab utama kematian pada Preeklampsia/eklampsia adalah penimbunan cairan di paru-paru akibat kegagalan jantung kiri. Sebab lainnya adalah pendarahan otak, terganggunya fungsi ginjal, dan masuknya isi lambung ke dalam saluran pernafasan. Pada pre dan eklamsia berat, perlu di rawat di rumah sakit. Biasanya akan di pikirkan untuk mengakhiri kehamilan karena harapan hidup janin tak besar dan gejala hilang segera setelah janin di angkat. Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut dan kronisnya insufisiensi uteroplasental, misalnya pertumbuhan, janin terhambat dan prematuritas.
Yang termasuk komplikasi khusus antara lain sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet count), sirosis ( kerusakan hati dan penurunan enzim hati), gangguan pernapasan pembuluh darah karena penurunan trombosit, gagal jantung, gagal ginjal (gangguan nefrotik). Sedangkan yang termasuk komplikasiumum adalah eklampsia, gagal jantung, dan odema.

F. Penatalaksanaan Medis
Tujuan utama penanganan Preeklampsia ialah :
1. Mencegah terjadinya kejang
2. Mencegah terjadinya perdarahan intra kranial
3. Mencegah terjadinya gangguan fungsi organ vital
4. Melahirkan bayi sehat atau janin hidup
5. Melahirkan janin dengan trauma dengan sekecil-kecilnya
Pada dasarnya penanganan Preeklampsia ringan terdiri atas pengobatan medik dan penanganan obstetrik. Penanganan obstetrik ditujukan untuk melahirkan bayi pada saat yang optimal, yaitu sebelum janin mati dalam kandungan. Akan tetapi sudah cukup matur untuk bayi hidup di luar uterus. Waktu optimal tidak selalu dapat di capai pada penanganan Preeklampsia, terutama bila janin masih sangat premature. Dalam hal ini di usahakan dengan tindakan medis untuk dapat menunggu selama mungkin, agar janin lebih matur.
Penanganan Preeklampsia dapat dilakukan dengan cara :
a. Dirawat di rumah sakit (rawat inap)
1. Banyak istirahat (berbaring/tidur miring) yakni 2 jam pada siang hari dan lebih dari 8 jam pada malam hari.
2. Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
3. Kalau tidak bisa istirahat berikan sedative ringan yaitu tablet phenobabital 3×2 mg per oral atau tablet diazepam 3×2 mg per oral selama 7 hari.
4. Roborantia
5. Kunjungan ulang setiap 1 minggu.

Disamping itu lakukan juga pemeriksaan penunjang, seperti : Urine lengkap, Hb, hematokrit, asam urat, darah, trombosit, fungsi hati, dan fungsi ginjal.

b. Perawatan obstetric ( terutama sikap terhadap kehamilan)
1. Pada kehamilan preterm (37 minggu), persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau di pertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada “Taksiran Tanggal Persalinan”.
3. Bila pasien sudah inpartu, perjalanan persalinan diikuti dengan grafik Friedman atau partograf WHO
4. Cara persalinan, persalinan dapat di lakukan secara spontan, bila perlu memperpendek skala II.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Posted: January 6, 2011 in arti nama AKU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002)
Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum 4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004) Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007)
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004) Berdasarkan uraian terebut di atas perlu di ketahui gambaran asuhan keperwatan pada klien hiperemesis gradidarum dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan ,evaluasi serta dokumentasi.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah pada laporan kasus ini adalah ”bagaimanakah asuhan kebidanan pada Ny.A kehamilan dengan hiperemesis gravidarum diruang Cendrawasih RS. Sari Mulia Banjarmasin”

C. Tujuan
1) Tujuan umum
Tenaga kesehatan mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Gravidarum dengan metode Varney.
2) Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui definisi hiperemesis gravidarum
b) Untuk mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum
c) Untuk mengetahui patofisiologi hiperemesis gravidarum
d) Untuk mengetahui gejala dan tanda hiperemesis gravidarum
e) Untuk mengetahui diagnosis hiperemesis gravidarum
f) Untuk mengetahui pencegahan hiperemesis gravidarum
g) Untuk mengetahui penatalaksanaan hiperemesis gravidarum

D. Manfaat
1. Bagi Lahan
Dapat mengevaluasi kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan kepada pembaca terutama mahasisiwi kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan, 1999).
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit seperti Appendisitis, Pielitis dan sebagainya

B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat – zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
1. Faktor predisposisi : Sering terjadi pada pringravida, Mola hidatosa, DM dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar hormon HCG
2. Faktor organic : Masukan vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic.
3. Fakultas psikologis : Keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tangungjawab, biasanya hilang pada bulan ke-4 jika mendapat dukungan psikologis yang efektif.
4. Faktor endokrin : Hipertiroid, DM.

C. Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trisemester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan dan dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
1. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang
3. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
4. Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.

D. Tanda dan gejala
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu :
1. Tingkatan I :
a. Muntah > 3-4 kali/hari terus menerus sehingga menimbulkan :
1) Dehidrasi : turgor kulit turun
2) Nafsu makan berkurang
3) Berat badan turun 2-3 kg dalam 1-2 minggu
4) Mata cekung dan lidah kering
b. Epigastrium nyeri
karena asam lambung meningkat dan terjadi regurgitasi ke esophagus
c. Nadi meningkat 100x/mnt dan tekanan darah turun
d. Frekuensi nadi sekitar 100 kali/menit
e. Tampak lemah dan lemas
2. Tingkatan II :
a. Dehidrasi semakin meningkat akibatnya :
1) Turgor kulit makin turun
2) Lidah kering dan kotor
3) Mata tampak cekung dan sedikit ikteris
b. Kardiovaskuler
1) Frekuensi nadi semakin cepat > 100 kali/menit
2) Nadi kecil karena volume darah turun dan cepat
3) Suhu badan meningkat
4) Tekanan darah turun/rendah
5) Berat badan menurun
c. hemokonsentrasi
d. oliguri dan konstipasi.
e. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III:
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fetal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Jika sampai ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati

E. DIAGNOSIS
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.

Diagnosis Banding
Muntah karena gastritis, ulkus peptikum, hepatitis, kolesistitis, pielonefritis

F. KOMPLIKASI
Dehidrasi berat, ikterik, takikardia, suhu meningkat, alkalosis, kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga, menarik diri dan depresi serta dapat terjadi Ensefalopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental serta payah hati dengan gejala timbulnya ikterus pada janin

G. PENATALAKSANAAN
Pencegahan
1. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.
5. makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Defekasi teratur
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.
Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin
Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
Diet
a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.
c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.

H. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin yang menjadi pegangan bagi kita untuk menilai maju mundurnya pasien adalah adanya aseton dam urin dan berat badan sangat turun

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER I
HAMIL 8 MINGGU
DI RS.SARI MULIA

I. PENGKAJIAN DATA
A. Subjective Data
1. Identitas
Istri
Nama : Ny. A
Umur : 20 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl.Ulin Gg.Gotong Royong Rt.11 Rw.03
Suami
Nama : Tn. R
Umur : 27 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl.Ulin Gg.Gotong Royong Rt.11 Rw.03

2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan hamil 8 bulan, mengeluh mual dan muntah 6 x dalam sehari setiap mau makan, ketika makan, dan setelah makan

3. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali, Kawin pertama kali umur 20 tahun, dengan suami sekarang sudah 2 bulan

4. Riwayat Haid
a. Menarche umur : 14 tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Teratur/tidak : Teratur
d. Lamanya : 7 hari
e. Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut / hari
f. Dismenorhoe : Tidak pernah
g. HPHT : 09 – 10 – 2010
h.Taksiran Partus : 16 – 07 – 2011

5. Riwayat Obstetri G1P0A0
No Thn Kehamilan Persalinan Bayi Pnyulit Nifas Ket
UK Penyulit UK Cara
Tempat/
Penolong Penyulit BB PB Seks Keadaan lahir
1. ini 8bln Mual
mntah – – – – – – – – –
)
6. Riwayat Keluarga Berencana
a. Jenis : tidak menggunakan
b. Lama : tidak ada
c. Masalah : tidak ada

7. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan ibu : Ibu tidak pernah mengalami penyakit kronik seperti jantung, asma, hipertensi, DM dan penyakit menular lainnya.
b. Riwayat kesehatan keluarga : Keluarga mempunyai riwaayat hipertensi dan tidak pernah mengalami penyakit kronik seperti jantung, asma, DM dan penyakit menular lainnya.

8. Keadaan Kehamilan Sekarang
a. Selama hamil ibu periksa di : BPS Bidan
b. Mulai periksa sejak usia kehamilan : 1 bulan
c. Frekuensi periksa kehamilan :
– Trimester I : 2 kali
– Trimester II : belum ada
– Trimester III : belum ada
d. TT I : tidak pernah TT II : tidak pernah
e. Keluhan/Masalah yang dirasakan ibu
No Keluhan / Masalah Umur
Kehamilan Tindakan Oleh Ket
1. Mual muntah 8 minggu Konseling bidan Ibu mengerti

9. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a. Nutrisi
– Jenis yang dikonsumsi : Nasi, ikan
– Frekuensi : 6 x sehari
– Porsi makan : ½ piring
– Pantangan : tidak ada
b. Eliminasi
BAB
– Frekuensi : 1 x sehari
– Konsistensi : lembek
– Warna : kecoklatan
BAK
– Frekuensi : 3x sehari
– Warna : kuning jernih
– Bau : pesing
c. Personal Hygiene
– Frekuensi mandi : 2 x sehari
– Frekuensi gosok gigi : 2 xsehari
– Frekuensi ganti pakaian/jenis : sesuai kebutuhan
d. Aktifitas :
Ibu melakukan pekerjaan sebagai ibu rumamh tangga
e. Tidur dan Istirahat
– Siang hari : tidak pernah
– Malam hari : 7-8 jam
– Masalah : tidak ada
f. Pola Seksual : ibu tidak berhubungan selama hamil muda
Masalah : takut dan cemas

10. Data Psikososial dan Spiritual
a. Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya : ibu mengerti tentang dirinya yang sedang hamil, Dan ibu menyukainya
b. Tanggapan ibu terhadap kehamilannya : ibu sangat senang akan kehamilannya sekarang
c. Ketaatan ibu beribadah : ibu dapat melakukan sholat 5 waktu
d. Pemecahan masalah dari ibu : dengan berdiskusi
e. Pengetahuan ibu terhadap kehamilannya : ibu banyak tahu dari pengalaman sebelumnya dan dari bidan.
f. Lingkungan yang berpengaruh
– Ibu tinggal bersama : suami dan anaknya
– Hewan piaraan : kucing
g. Hubungan sosial ibu dengan mertua, orang tua, keluarga : baik
h. Penentu pengambil keputusan dalam keluarga : suami
i. Jumlah penghasilan keluarga : secukupnya
j. Yang menanggung biaya ANC dan persalinan : suami

B. Objective Data
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : lemah
b. Kesadaran : compos menthis
c. Berat badan
– Sebelum hamil : 48 kg
– Sekarang : 47 kg
d. Tinggi badan : tidak dilakukan
e. LILA : 24 cm
f. Tanda Vital : TD 120/80 mmHg, Nadi 80 x/menit
Suhu 36,5°C, Respirasi 26x/menit
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
– Kepala:kulit kepala bersih, pertumbuhan rambut merata, tidak
rontok
– Muka :simetris, ada closma gravidarum, tidak ada oedem
– Mata :konjungtiva tmapak pucat, sklera tidak ikterik
– Telinga:simetris, tidak ada serumen
– Hidung:simetris, tidak ada secret dan tidak ada pernapasan cuping
hidung
– Mulut :bibir tamapak pucat, tidak ada sariawan, lidah bersih, ada
caries gigi
– Leher :tidak tampak pembengkakkan kelenjar tyroid dan
Pembesaran vena jugularis
– Dada/mamae : simetris, tidak ada retraksi dada, tampak
hiperpigmentasi areola, puting menonjol
– Perut : tidak ada linea alba, luka bekas operasi, tampak linea
nigra, dan strie gravidarum, pembesaran sesuai umur kehamilan.
– Tungkai : tidak tampak oedem dan varises
b. Palpasi
 Kepala : tidak teraba masa, tidak ada nyeri tekan
 Leher : tidak teraba pembengkakan kelenjar tyriod dan pembesaran vena jugularis
 Dada/Mamae : colostrum sudah keluar, tidak ada masa dan nyeri tekan
 Abdomen :
-Leopold I : tidak teraba
-Leopold II : tidak teraba
-Leopold III : tidak teraba
-Leopold IV : tidak teraba
-TBJ : tidak ada
– Tungkai: tidak teraba oedem dan varises
c. Auskultasi
Tidak dilakukan
d. Perkusi
– Refleks Patella : Kiri / Kanan , ( + ) / ( + )
– Cek ginjal : Kiri / Kanan, ( – ) / ( – )
e. Pemeriksaan Panggul Luar :
tidak dilakukan

3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA
a. Diagnosa Kebidanan : G3P2A0 hamil 8 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum
b. Masalah : mual muntah
c. Kebutuhan : konseling dan therapy

III. DIAGNOSA POTENSIAL
Dehidrasi

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Konsul dengan dokter SPOG advis infuse D5% 20 tetes/menit, anjurkan ibu untuk lebih banyak istirahat, beri ibu terapi obat, vitamin B1 dan Avomin.

V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya.
2. Beritahu tanda bahaya kehamilan
3. Jelaskan penanganan pada hiperemesis gravidarum
4. Berikan terapi obat/ therapy
5. Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
6. Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual dan muntahnya.
7. Berikan penambahan cairan yaitu infuse

VI. PELAKSANAAN
1. Memberitahukan ibu bahwa ibu mengalami mual muntah yang berlebihan dalam kehamilan (hiperemesis graviadrum)
2. Memberitahu tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginam.
3. Menjelaskan tentang kehamilan kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat merangsang mual dan muntal kembali. Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak, makan sedikit tapi sering, banyak minum air, dan hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung, tidak makan makanan yang berminyak karena dapat merangsang kembali mual.
4. Memberikan terapi obat menggunakan panso 2 x 1 vial, anti muntah (invomit 2 x 4 mg), neurobat 1 x 1 amp
5. Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II harus dirawat inap dirumah sakit.
6. Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya.
7. Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam, RL, dan NS

VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui keadaannya
2. Ibu mengetahui tanda bahaya kehamilan
3. Ibu mengerti penjelasan yang diberikan
4. Therapy sudah diberikan
5. Ibu bersedia dirawat dan istirahat dikamarnya
6. Ibu sudah mendapatkan cairan melalui infuse

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Gejala mual dan muntah yang berat yang di sebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan
• Etiologi :
1. Faktor predisposisi
2. Faktor organic
3. Faktor Psikologi
4. Faktor Endokrin
• Tanda dan gejala
1. Muntah yang hebat
2. Dehidrasi
3. BB turun
4. Icterus
• Tingkat H.G
1. Tingkat 1 ( Ringan )
2. Tingkat 2 ( Sedang )
3. Tingkat 3 ( Berat )
• Pada penderita Hiperemesis gravidarum memerlukan perawatan khusus.

B. SARAN
Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada ibu hamil dengan hiperemesis graviadarum dengan lebih komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Padjajaran, FK. 1984. Obstetri Patologi. Bandung :Elstan offset

St. Carolus Komisi Keperawatan. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Hyperemesis
Gravidarum. Jakarta : Komisi Keperawatan St. Carolus

Susan M. Weiner. 1989. Clinical Manual of Maternity and Gynecologic Nursing

Wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo

Manuaba, Ida Bagus, 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta,
Penerbit: Arcan

Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obsetri, Jilid I, Jakarta; EGC

Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta; Tridasa Printer

Babak, Lowdermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4;
Jakarta, EGC