HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Posted: January 6, 2011 in arti nama AKU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002)
Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum 4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004) Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007)
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004) Berdasarkan uraian terebut di atas perlu di ketahui gambaran asuhan keperwatan pada klien hiperemesis gradidarum dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan ,evaluasi serta dokumentasi.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah pada laporan kasus ini adalah ”bagaimanakah asuhan kebidanan pada Ny.A kehamilan dengan hiperemesis gravidarum diruang Cendrawasih RS. Sari Mulia Banjarmasin”

C. Tujuan
1) Tujuan umum
Tenaga kesehatan mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Gravidarum dengan metode Varney.
2) Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui definisi hiperemesis gravidarum
b) Untuk mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum
c) Untuk mengetahui patofisiologi hiperemesis gravidarum
d) Untuk mengetahui gejala dan tanda hiperemesis gravidarum
e) Untuk mengetahui diagnosis hiperemesis gravidarum
f) Untuk mengetahui pencegahan hiperemesis gravidarum
g) Untuk mengetahui penatalaksanaan hiperemesis gravidarum

D. Manfaat
1. Bagi Lahan
Dapat mengevaluasi kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan kepada pembaca terutama mahasisiwi kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan, 1999).
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit seperti Appendisitis, Pielitis dan sebagainya

B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat – zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
1. Faktor predisposisi : Sering terjadi pada pringravida, Mola hidatosa, DM dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar hormon HCG
2. Faktor organic : Masukan vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic.
3. Fakultas psikologis : Keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tangungjawab, biasanya hilang pada bulan ke-4 jika mendapat dukungan psikologis yang efektif.
4. Faktor endokrin : Hipertiroid, DM.

C. Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trisemester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan dan dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
1. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang
3. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
4. Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.

D. Tanda dan gejala
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu :
1. Tingkatan I :
a. Muntah > 3-4 kali/hari terus menerus sehingga menimbulkan :
1) Dehidrasi : turgor kulit turun
2) Nafsu makan berkurang
3) Berat badan turun 2-3 kg dalam 1-2 minggu
4) Mata cekung dan lidah kering
b. Epigastrium nyeri
karena asam lambung meningkat dan terjadi regurgitasi ke esophagus
c. Nadi meningkat 100x/mnt dan tekanan darah turun
d. Frekuensi nadi sekitar 100 kali/menit
e. Tampak lemah dan lemas
2. Tingkatan II :
a. Dehidrasi semakin meningkat akibatnya :
1) Turgor kulit makin turun
2) Lidah kering dan kotor
3) Mata tampak cekung dan sedikit ikteris
b. Kardiovaskuler
1) Frekuensi nadi semakin cepat > 100 kali/menit
2) Nadi kecil karena volume darah turun dan cepat
3) Suhu badan meningkat
4) Tekanan darah turun/rendah
5) Berat badan menurun
c. hemokonsentrasi
d. oliguri dan konstipasi.
e. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III:
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fetal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Jika sampai ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati

E. DIAGNOSIS
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.

Diagnosis Banding
Muntah karena gastritis, ulkus peptikum, hepatitis, kolesistitis, pielonefritis

F. KOMPLIKASI
Dehidrasi berat, ikterik, takikardia, suhu meningkat, alkalosis, kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga, menarik diri dan depresi serta dapat terjadi Ensefalopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental serta payah hati dengan gejala timbulnya ikterus pada janin

G. PENATALAKSANAAN
Pencegahan
1. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.
5. makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Defekasi teratur
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.
Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin
Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
Diet
a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.
c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.

H. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin yang menjadi pegangan bagi kita untuk menilai maju mundurnya pasien adalah adanya aseton dam urin dan berat badan sangat turun

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER I
HAMIL 8 MINGGU
DI RS.SARI MULIA

I. PENGKAJIAN DATA
A. Subjective Data
1. Identitas
Istri
Nama : Ny. A
Umur : 20 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl.Ulin Gg.Gotong Royong Rt.11 Rw.03
Suami
Nama : Tn. R
Umur : 27 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl.Ulin Gg.Gotong Royong Rt.11 Rw.03

2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan hamil 8 bulan, mengeluh mual dan muntah 6 x dalam sehari setiap mau makan, ketika makan, dan setelah makan

3. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali, Kawin pertama kali umur 20 tahun, dengan suami sekarang sudah 2 bulan

4. Riwayat Haid
a. Menarche umur : 14 tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Teratur/tidak : Teratur
d. Lamanya : 7 hari
e. Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut / hari
f. Dismenorhoe : Tidak pernah
g. HPHT : 09 – 10 – 2010
h.Taksiran Partus : 16 – 07 – 2011

5. Riwayat Obstetri G1P0A0
No Thn Kehamilan Persalinan Bayi Pnyulit Nifas Ket
UK Penyulit UK Cara
Tempat/
Penolong Penyulit BB PB Seks Keadaan lahir
1. ini 8bln Mual
mntah – – – – – – – – -
)
6. Riwayat Keluarga Berencana
a. Jenis : tidak menggunakan
b. Lama : tidak ada
c. Masalah : tidak ada

7. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan ibu : Ibu tidak pernah mengalami penyakit kronik seperti jantung, asma, hipertensi, DM dan penyakit menular lainnya.
b. Riwayat kesehatan keluarga : Keluarga mempunyai riwaayat hipertensi dan tidak pernah mengalami penyakit kronik seperti jantung, asma, DM dan penyakit menular lainnya.

8. Keadaan Kehamilan Sekarang
a. Selama hamil ibu periksa di : BPS Bidan
b. Mulai periksa sejak usia kehamilan : 1 bulan
c. Frekuensi periksa kehamilan :
– Trimester I : 2 kali
– Trimester II : belum ada
– Trimester III : belum ada
d. TT I : tidak pernah TT II : tidak pernah
e. Keluhan/Masalah yang dirasakan ibu
No Keluhan / Masalah Umur
Kehamilan Tindakan Oleh Ket
1. Mual muntah 8 minggu Konseling bidan Ibu mengerti

9. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a. Nutrisi
– Jenis yang dikonsumsi : Nasi, ikan
– Frekuensi : 6 x sehari
– Porsi makan : ½ piring
– Pantangan : tidak ada
b. Eliminasi
BAB
– Frekuensi : 1 x sehari
– Konsistensi : lembek
– Warna : kecoklatan
BAK
– Frekuensi : 3x sehari
– Warna : kuning jernih
– Bau : pesing
c. Personal Hygiene
– Frekuensi mandi : 2 x sehari
– Frekuensi gosok gigi : 2 xsehari
– Frekuensi ganti pakaian/jenis : sesuai kebutuhan
d. Aktifitas :
Ibu melakukan pekerjaan sebagai ibu rumamh tangga
e. Tidur dan Istirahat
– Siang hari : tidak pernah
– Malam hari : 7-8 jam
– Masalah : tidak ada
f. Pola Seksual : ibu tidak berhubungan selama hamil muda
Masalah : takut dan cemas

10. Data Psikososial dan Spiritual
a. Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya : ibu mengerti tentang dirinya yang sedang hamil, Dan ibu menyukainya
b. Tanggapan ibu terhadap kehamilannya : ibu sangat senang akan kehamilannya sekarang
c. Ketaatan ibu beribadah : ibu dapat melakukan sholat 5 waktu
d. Pemecahan masalah dari ibu : dengan berdiskusi
e. Pengetahuan ibu terhadap kehamilannya : ibu banyak tahu dari pengalaman sebelumnya dan dari bidan.
f. Lingkungan yang berpengaruh
– Ibu tinggal bersama : suami dan anaknya
– Hewan piaraan : kucing
g. Hubungan sosial ibu dengan mertua, orang tua, keluarga : baik
h. Penentu pengambil keputusan dalam keluarga : suami
i. Jumlah penghasilan keluarga : secukupnya
j. Yang menanggung biaya ANC dan persalinan : suami

B. Objective Data
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : lemah
b. Kesadaran : compos menthis
c. Berat badan
– Sebelum hamil : 48 kg
– Sekarang : 47 kg
d. Tinggi badan : tidak dilakukan
e. LILA : 24 cm
f. Tanda Vital : TD 120/80 mmHg, Nadi 80 x/menit
Suhu 36,5°C, Respirasi 26x/menit
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
– Kepala:kulit kepala bersih, pertumbuhan rambut merata, tidak
rontok
– Muka :simetris, ada closma gravidarum, tidak ada oedem
– Mata :konjungtiva tmapak pucat, sklera tidak ikterik
– Telinga:simetris, tidak ada serumen
– Hidung:simetris, tidak ada secret dan tidak ada pernapasan cuping
hidung
– Mulut :bibir tamapak pucat, tidak ada sariawan, lidah bersih, ada
caries gigi
– Leher :tidak tampak pembengkakkan kelenjar tyroid dan
Pembesaran vena jugularis
– Dada/mamae : simetris, tidak ada retraksi dada, tampak
hiperpigmentasi areola, puting menonjol
– Perut : tidak ada linea alba, luka bekas operasi, tampak linea
nigra, dan strie gravidarum, pembesaran sesuai umur kehamilan.
– Tungkai : tidak tampak oedem dan varises
b. Palpasi
 Kepala : tidak teraba masa, tidak ada nyeri tekan
 Leher : tidak teraba pembengkakan kelenjar tyriod dan pembesaran vena jugularis
 Dada/Mamae : colostrum sudah keluar, tidak ada masa dan nyeri tekan
 Abdomen :
-Leopold I : tidak teraba
-Leopold II : tidak teraba
-Leopold III : tidak teraba
-Leopold IV : tidak teraba
-TBJ : tidak ada
– Tungkai: tidak teraba oedem dan varises
c. Auskultasi
Tidak dilakukan
d. Perkusi
– Refleks Patella : Kiri / Kanan , ( + ) / ( + )
– Cek ginjal : Kiri / Kanan, ( – ) / ( – )
e. Pemeriksaan Panggul Luar :
tidak dilakukan

3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA
a. Diagnosa Kebidanan : G3P2A0 hamil 8 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum
b. Masalah : mual muntah
c. Kebutuhan : konseling dan therapy

III. DIAGNOSA POTENSIAL
Dehidrasi

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Konsul dengan dokter SPOG advis infuse D5% 20 tetes/menit, anjurkan ibu untuk lebih banyak istirahat, beri ibu terapi obat, vitamin B1 dan Avomin.

V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya.
2. Beritahu tanda bahaya kehamilan
3. Jelaskan penanganan pada hiperemesis gravidarum
4. Berikan terapi obat/ therapy
5. Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
6. Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual dan muntahnya.
7. Berikan penambahan cairan yaitu infuse

VI. PELAKSANAAN
1. Memberitahukan ibu bahwa ibu mengalami mual muntah yang berlebihan dalam kehamilan (hiperemesis graviadrum)
2. Memberitahu tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginam.
3. Menjelaskan tentang kehamilan kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat merangsang mual dan muntal kembali. Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak, makan sedikit tapi sering, banyak minum air, dan hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung, tidak makan makanan yang berminyak karena dapat merangsang kembali mual.
4. Memberikan terapi obat menggunakan panso 2 x 1 vial, anti muntah (invomit 2 x 4 mg), neurobat 1 x 1 amp
5. Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II harus dirawat inap dirumah sakit.
6. Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya.
7. Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam, RL, dan NS

VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui keadaannya
2. Ibu mengetahui tanda bahaya kehamilan
3. Ibu mengerti penjelasan yang diberikan
4. Therapy sudah diberikan
5. Ibu bersedia dirawat dan istirahat dikamarnya
6. Ibu sudah mendapatkan cairan melalui infuse

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Gejala mual dan muntah yang berat yang di sebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan
• Etiologi :
1. Faktor predisposisi
2. Faktor organic
3. Faktor Psikologi
4. Faktor Endokrin
• Tanda dan gejala
1. Muntah yang hebat
2. Dehidrasi
3. BB turun
4. Icterus
• Tingkat H.G
1. Tingkat 1 ( Ringan )
2. Tingkat 2 ( Sedang )
3. Tingkat 3 ( Berat )
• Pada penderita Hiperemesis gravidarum memerlukan perawatan khusus.

B. SARAN
Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada ibu hamil dengan hiperemesis graviadarum dengan lebih komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Padjajaran, FK. 1984. Obstetri Patologi. Bandung :Elstan offset

St. Carolus Komisi Keperawatan. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Hyperemesis
Gravidarum. Jakarta : Komisi Keperawatan St. Carolus

Susan M. Weiner. 1989. Clinical Manual of Maternity and Gynecologic Nursing

Wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo

Manuaba, Ida Bagus, 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta,
Penerbit: Arcan

Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obsetri, Jilid I, Jakarta; EGC

Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta; Tridasa Printer

Babak, Lowdermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4;
Jakarta, EGC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s